Hadits-Hadits Dla’if yang Terdapat dalam Kitab At-Tauhid karya Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab

Apakah boleh wahai para Salafy menggunakan hadits dhaif untuk masalah Tauhid … ???

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab rahimahullah adalah salah satu ‘ulama besar yang pernah dilahirkan di jamannya. Dikatakan, beliau adalah seorang mujaddid yang mengikuti pendahulunya – yaitu Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah – dalam menegakkan kembali dakwah tauhid dan sunnah serta memerangi kesyirikan dan bid’ah, khususnya di daerah Hijaz dan sekitarnya. Beliau rahimahullah adalah seorang ulama yang mempunyai pengetahuan yang luas. Banyak sudah karya tulis yang dilahirkan melalui pena yang beliau genggam. Salah satu karya monumentalnya adalah Kitaabut-Tauhiid Alladzii Huwa Haqqullaahi ‘alal-‘Abiid. Dalam buku tersebut, beliau menjelaskan point-point ringkas dan padat tentang tauhid dan keutamaannya, serta hal-hal yang merusaknya dari perkara-perkara kesyirikan. Tidak ada seorang pun yang membacanya dengan hati terbuka, kecuali ia akan mendapatkan faedah yang sangat banyak dari kebenaran yang beliau sampaikan. Tidak lain, karena dalam buku tersebut dipenuhi dengan perkataan : qaalallaah wa qaalar-rasuul (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Namun, sebagaimana buku-buku yang lain, buku ini pun tidak lepas dari ‘kritikan’. Dalam buku tersebut masih termuat beberapa hadits dla’if – walau jumlahnya tidak banyak.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mencoba mengumpulkan hadits-hadits tersebut berdasarkan penghukuman atau takhrij dan tahqiq para ‘ulama ahli hadits yang tersebar dalam beberapa kitab.. Harapan saya, apa yang saya tulis ini (semoga) dapat bermanfaat bagi para Pembaca; menambah faedah bagi mereka yang akan, sedang atau telah mempelajari Kitaabut-Tauhiid.

BAB 2 : KEISTIMEWAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA – فضل التوحيد وما يكفر من الذنوب

Muallif (Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab) berkata :

وعن أبي سعيد الخدري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “قال موسى: يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به. قال: قل يا موسى: لا إله إلا الله ; قال: يا رب كل عبادك يقولون هذا. قال: يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن لا إله إلا الله”. رواه ابن حبان والحاكم وصححه

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Musa berkata : “Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu”. Allah berfirman : “Katakanlah wahai Musa : Laa ilaaha illallaah”. Musa berkata : Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini”. Allah pun berfirman : ”Hai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang ’Laa ilaaha illallaah’ diletakkan pada daun timbangan yang lain; maka ’Laa ilaaha illallaah’ niscaya lebih berat timbangannya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Haakim, dan ia menshahihkannya.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6218) dan Al-Mawaarid (no. 2324), serta Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (1/528). Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/327-328), An-Nasa’i dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 834, 1141), Al-Baihaqi dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat (102-103), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini dla’if karena perawi yang bernama Darraaj bin Sam’aan. Al-Imam Ahmad berkata : “Hadits-hadits Darraj dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Sa’id Al-Khudriy adalah lemah”.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (9/54-55 no. 6185), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (1/718 no. 1988), dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban (no. 6218).

BAB 7 : TERMASUK SYIRIK; MEMAKAI GELANG, BENANG, DAN SEJENISNYA SEBAGAI PENGUSIR ATAU PENANGKAL MARA BAHAYA – من الشرك: لبس الحلقة والخيط ونحوهما لرفع البلاء أو دفعه

1. Hadits ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu :

Muallif berkata :

عن عمران بن حصين رضي الله عنه: “أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال: ما هذه؟ قال من الواهنة. فقال: انزعها، فإنها لا تزيدك إلا وهنا؛ فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدا”. رواه أحمد بسند لا بأس به

Dari ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan. Maka beliau bertanya : “Apakah ini ?”. Orang itu menjawab : “Penangkal sakit”. Nabi pun bersabda : “Lepaskan itu, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Sebab jika kamu mati sedangkan gelang itu masih ada di tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad laa ba’sa bih (tidak mengapa/bisa diterima).

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (4/445), Ibnu Majah (no. 3531), Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (18/172 no. 391), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6085) dan Al-Mawaarid (no. 1410-1411), serta Al-Haakim (4/216).

Sanad hadits ini dla’if karena :

a) Adanya inqitha’ (keterputusan), karena Al-Hasan (Al-Bashriy) tidak mendengar hadits dari ‘Imran bin Hushain. Tashriih Al-Hasan dalam hadits di atas adalah tidak benar menurut Ibnul-Madini, Abu Hatim, dan Ibnu Ma’in.

b) Adanya ’an’anah dari Al-Mubaarak bin Fudlaalah, sedangkan ia adalah seorang mudallis.

Hadits ini dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (8/448 no. 6053) dan Adl-Dla’ifah (3/101-104), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (4/341 no. 7582 – beliau menegaskan adanya inqitha’ dalam sanadnya), serta Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (33/2-4-205).

2. Hadits ’Uqbah bin ’Aamir radliyallaahu ’anhu :

Muallif berkata :

وله عن عقبة بن عامر مرفوعا: “من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له”

Dan diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad pula, dari ’Uqbah bin ’Aamir secara marfu’ : “Barangsiapa menggantungkan tamiimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya. Dan barangsiapa menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (4/154), Abu Ya’la (no. 1759), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6086) dan Al-Mawaarid (no. 1413), Al-Haakim (4/216), Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (4/325), serta yang lainnya.

Sanad hadits ini adalah dla’if karena Khaalid bin ’Ubaid. Ia seorang perawi yang majhul ’ain.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (8/448-449 no. 6054) dan Adl-Dla’iifah (3/427 no. 1266) serta Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (4/579-580 no. 8358).

BAB 10 : MENYEMBELIH BINATANG DENGAN NIAT BUKAN KARENA ALLAH – ما جاء في الذبح لغير الله

Muallif berkata :

وعن طارق بن شهاب: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “دخل الجنة رجل في ذباب، ودخل النار رجل في ذباب. قالوا: وكيف ذلك يا رسول الله؟ قال: مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئا، فقالوا لأحدهما: قرب. قال ليس عندي شيء أقرب. قالوا له: قرب ولو ذبابا. فقرب ذبابا، فخلوا سبيله. فدخل النار. وقالوا للآخر: قرب. فقال: ما كنت لأقرب لأحد شيئا دون الله ، فضربوا عنقه؛ فدخل الجنة” رواه أحمد.

Dari Thaariq bin Syihaab : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula”. Para shahabat bertanya : “Bagaimana hal itu wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorang pun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari dua orang tersebut : ‘Persembahkanlah kurban kepadanya’. Ia menjawab : ‘Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya’. Merekapun berkata kepadanya lagi : ‘Persembahkanlah, sekalipun seekor lalat’. Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankannya untuk meneruskan perjalanan. Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain : ‘Persembahkanlah kurban kepadanya’. Dia menjawab : ‘Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah’. Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga”.

Diriwayatkan oleh Ahmad.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd (hal. 22), Ibnu Abi Syaibah (12/358) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/203).

Hadits yang benar adalah mauquf shahih pada Salmaan Al-Farisiy. Bukan marfu’ sebagaimana dikatakan oleh Muallif (Asy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab). Lihat Takhrij wa Tahqiq ’alaa Kitaab Al-Jawaabul-Kaafiy li-Ibnil-Qayyim oleh ’Amr bin ’Abdil-Mun’im Saliim (hal. 84-85).

BAB 14 : TERMASUK SYIRIK : ISTIGHTSAH ATAU BERDOA KEPADA SELAIN ALLAH – من الشرك أن يستغيث بغير الله أو يدعو غيره

Muallif berkata :

وروى الطبراني بإسناده “أنه كان في زمن النبي صلى الله عليه وسلم منافق يؤذي المؤمنين، فقال بعضهم: قوموا بنا نستغيث برسول الله صلى الله عليه وسلم من هذا المنافق، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إنه لا يستغاث بي، وإنما يستغاث بالله”.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dengan sanadnya : ”Pernah terjadi di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam ada seorang munafiq yang selalu mengganggu orang-orang mukmin. Maka berkatalah salah seorang di antara mereka : ”Marilah kita bersama-sama ber-istighatsah kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam supaya dihindarkan dari tindakan orang munafiq ini. (Ketika mendengar khabar ini), Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya tidak boleh beristighatsah kepadaku, akan tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (melalui perantaraan Majma’uz-Zawaaid no. 17276) dan Ahmad (5/317).

Sanad hadits ini adalah dla’if karena :

1. Ibnu Lahi’ah, ia seorang perawi yang dla’if dalam hafalan.

2. Adanya perawi yang mubham (tersembunyi identitasnya) sebelum ’Ubadah bin Ash-Shaamit radliyallaahu ’anhu.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (37/380-381).

BAB 16 : FIRMAN ALLAH TA’ALA QS. SABA’ : 23 – قول الله تعالى: {حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ}

Muallif berkata :

وعن النواس بن سمعان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة – أو قال رعدة – شديدة خوفا من الله (؛ فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا، وخروا لله سجدا. فيكون أول من يرفع رأسه جبريل، فيكلمه الله من وحيه بما أراد. ثم يمر جبريل على الملائكة، كلما مر بسماء سأله ملائكتها: ماذا قال ربنا يا جبريل؟ فيقول جبريل قال الحق وهو العلي الكبير فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل فينتهي جبريل بالوحي إلى حيث أمره الله)

Dari Nawwaas bin Sam’aan radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Apabila Allah ta’ala hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena rasa takut kepada Allah. Lalu apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya : ’Apakah yang telah difirmankan Tuhan kita wahai Jibril ?’. Jibril menjawab : ’Dia firmankan yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan oleh Jibril tersebut. Demikianlah, sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (no. 206), Ibnu Abi ’Aashim dalam As-Sunnah (no. 515), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (5/152), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini adalah dla’if karena :

1. Nu’aim bin Hammaad, ia seorang perawi yang jelek hafalannya. Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam At-Taqriib : ”Shaduuq, yukhthi’ katsiiran (jujur, namun banyak salahnya”.

2. Al-Waliid bin Muslim. Ia seorang mudallis yang melakukan tadlis taswiyah dengan periwayatan secara ’an’anah.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul-Jannah (hal. 226-227 no. 515) dan Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawabirah dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabis-Sunnah li-Ibni Abi ’Aashim (hal. 359-360 no. 527).

BAB 21 : SIKAP BERLEBIHAN TERHADAP KUBURAN ORANG-ORANG SHALIH, AKAN MENJADIKANNYA SEBAGAI BERHALA YANG DISEMBAH SELAIN ALLAH – ما جاء أن الغلو في قبور الصالحين يصيرها أوثانا تعبد من دون الله

Muallif berkata :

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: “لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم زائرات القبور، والمتخذين عليها المساجد والسرج” رواه أهل السنن.

Dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan serta orang-orang yang membuat tempat ibadah dan memberi penerangan lampu di atas kuburan”.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 320), An-Nasa’i (no. 2043), Abu Dawud (no. 3236), Ibnu Majah (no. 1575), Ahmad (1/229, 287, 324, 337), Ath-Thayaalisiy (no. 2733), Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (no. 12725), Al-Haakim (1/374), dan yang lainnya.

Hadits ini dla’if dengan lafadh di atas, dikarenakan ke-dla’if-an Abu Shaalih Baadzaan, Maula Umu Haanii’. Al-Haafidh berkata dalam At-Talkhiish (2/137) bahwa jumhur ’ulamaa menyatakan bahwa Abu Shalih Maula Ummu Haanii’ adalah dla’if (mudallis) dimana ia tidak mendengar hadits dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adl-Dla’iifah (1/393-396 no. 225), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (1/524 no. 1385), Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (3/471-472 no. 2030), Asy-Syaikh Hamdiy As-Salafiy dalam Takhrij ’alal-Mu’jamil-Kabiir lith-Thabarani (12/148), dan Dr. Muhammad bin ’Abdil-Muhsin At-Turkiy dalam Tahqiq ’alaa Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisiy (4/454 no. 2856).

BAB 24 : HUKUM SIHIR – ما جاء في السحر

Muallif berkata :

وعن جندب مرفوعا: “حد الساحر ضربه بالسيف” رواه التزمذي،

Dari Jundab secara marfu’ : ”Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang”.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1464), Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (no. 1665), Ad-Daaruquthniy (3/114), Al-Haakim (4/360) dan Al-Baihaqi (8/136).

Sanad hadits ini adalah dla’if. Hadits ini mempunyai dua jalan.

Jalan pertama dari Isma’il bin Muslim Al-Makkiy, dari Al-Hasan Al-Bashriy, dari Jundab. Isma’il bin Muslim adalah perawi yang sangat dla’if. Adz-Dzahabi mengatakan dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin bahwa ia merupakan perawi yang disepakati ke-dla’if-annya.

Jalan kedua dari Khaalid bin ‘Abdirrahman Al-‘Abd, dari Al-Hasan Al-Bashriy, dari Jundab. Khaalid Al-‘Abd juga dla’if, sebagaimana dikatakan Adz-Dzahabi dalam Al-Mughni fidl-Dlu’afaa’.

Dua jalan di atas berporos pada Al-Hasan Al-Bashriy. Ia seorang perawi mudallis yang membawakan riwayat dengan ‘an’anah.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adl-Dla’iifah (3/641-643 no. 1446), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (4/512 no. 8155), dan Asy-Syaikh Hamdiy As-Salafiy dalam Takhrij ’alal-Mu’jamil-Kabiir lith-Thabarani (2/161).

BAB 25 : PENJELASAN MENGENAI MACAM-MACAM SIHIR – بيان شيء من أنواع السحر

1. Hadits Ibnu Qabishah radliyallaahu ‘anhu :

Muallif berkata :

قال أحمد: حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا عوف، عن حيان بن العلاء، حدثنا قطن بن قبيصة عن أبيه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إن العيافة والطرق والطيرة من الجبت”

Telah berkata Ahmad : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Hayyaan bin Al-‘Alaa’ : Telah menceritakan kepada kami Qaththan bin Qabiishah, dari ayahnya : Bahwasannya ia mendengat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya ‘iyaafah, tharq, dan thiyarah adalah termasuk jibt”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (3/477, 5/60), Abu Dawud (no. 3907), An-Nasa’i dalam Al-Kubraa (no. 11108), Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (18/369 no. 941,942,943,945), ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf (no. 19502), Ibnu Hibban dalam Shahih¬-nya (no. 6131) dan Al-Mawaarid (no. 1426), serta yang lainnya.

Sanad hadits ini adalah dla’if karena jahalah Hayyaan bin Al-‘Alaa’. Juga ada idlthirab rawi setelah Hayaan dalam penyebutan nama Hayaan. Dalam beberapa riwayat disebutkan Hayyan saja (tanpa nisbah), Hayyan bin Al-‘Alaa’, Hayyaan bin ‘Umair, dan Hayyaan bin Mukhaariq. Ini menunjukkan tidak dlabth-nya rawi.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ghayaatul-Maraam (hal. 183-184 no. 301), disepakati oleh Asy-Syaikh Hamdiy As-Salafiy dalam Takhrij ’alal-Mu’jamil-Kabiir lith-Thabarani (18/369), dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (34/208 no. 20603-20604).

2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

Muallif berkata :

وللنسائي من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: “من عقد عقدة ثم نفث فيها فقد سحر، ومن سحر فقد أشرك. ومن تعلق شيئا وكل إليه”

Oleh An-Nasa’i dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : “Barangsiapa yang membuat satu buhulan, lalu meniup padanya (sebagaimana dilakukan tukang sihir), maka dia telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu, maka dirinya dijadikan Allah bersandar kepadanya”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4079) dan Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil (238/2).

Sanad hadits ini adalah dla’if karena dua ’illat. Pertama, adanya inqitha’ antara Al-Hasan dengan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Kedua, ‘Abbaad bin Maisarah adalah layyinul-hadiits, sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafidh.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ghayaatul-Maraam (hal. 175 no. 288).

BAB 28 : HUKUM TATHAYYUR – ما جاء في التطير

1. Hadits ’Uqbah bin ’Aamir :

Muallif berkata :

ولأبي داود بسند صحيح عن عقبة بن عامر قال: “ذكرت الطيرة عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: أحسنها الفأل، ولا ترد مسلما؛ فإذا رأى أحدكم ما يكره فليقل: اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت، ولا يدفع السيئات إلا أنت، ولا حول ولا قوة إلا بك”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Disebutkan tentang thiyarah dihadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda : “Yang paling baik adalah fa’l, dan thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari niatnya. Apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkannya, maka hendaknya ia berdoa : ‘Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Engkau, tidak ada yang dapat menolak keburukan selain Engkau, dan tidak ada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau”.

Keterangan :

Nama ‘Uqbah bin ‘Aamir di atas, yang betul adalah ’Urwah bin ’Aamir.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3719), Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa (8/139), dan Ibnus-Sunniy dalam ’Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 293).

Sanad hadits ini adalah dla’if karena ’Urwah bin ’Aamir diperselisihkan status ke-shahabat-nya. Yang rajih – menurut Ibnu Hajar – ia bukan merupakan shahabat, sehingga status hadits ini mursal. Selain itu, Hubaib bin Abi Tsaabit adalah mudallis yang membawakan riwayat dengan ’an’anah.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adl-Dla’iifah (4/123 no. 1619) dan Basyiir Muhammad ’Uyuun dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabi ’Amalil-Yaum wal-Lailah li-Ibnis-Suniiy (hal. 144).

2. Hadits Al-Fadhl bin ’Abbas Radliyallaahu ’anhuma :

Muallif berkata :

وله من حديث الفضل بن عباس رضي الله عنه: “إنما الطيرة ما أمضاك أو ردك”

Al-Imam Ahmad meriwayatkan pula hadits dari Al-Fadhl bin ’Abbas radliyallaahu ’anhu : “Sesungguhnya thiyarah itu adalah yang menjadikamu terus melangkah atau mengurungkan niat (dari keperluanmu)”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (1/213).

Sanad hadits ini adalah dla’if karena Ibnu ‘Ulaatsah. Al-Bukhari mengatakan bahwa ada masalah dalam hafalannya (fii hifdhihi nadhar). Juga, adanya inqitha’ dari Maslamah bin ‘Abdillah, dimana ia tidak pernah bertemu dengan Al-Fadhl bin ‘Abbas.

Hadits ini di-¬dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dalam Syarh Musnad Al-Imam Ahmad (2/411-412 no. 1824) dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (3/327-328 no. 1824).

BAB 32 : FIRMAN ALLAH TA’ALA QS. AALI-‘IMRAAN : 175 – قول الله تعالى: إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Muallif berkata :

عن أبي سعيد رضي الله عنه مرفوعا: “إن من ضعف اليقين أن ترضي الناس بسخط الله، وأن تحمدهم على رزق الله، وأن تذمهم على ما لم يؤتك الله. إن رزق الله لا يجره حرص حريص، ولا يرده كراهية كاره”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ’anhu secara marfu’ : “Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan apabila kamu mencari kerelaan manusia dengan kemurkaan Allah, memuji mereka atas rizki Allah yang diberikan lewat mereka, dan mencela mereka atas sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu lewat mereka. Sesungguhnya rizki Allah itu tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebencian orang yang membenci”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (5/106) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman (no. 203).

Sanad hadits ini adalah dla’if jiddan, karena Muhammad bin Marwaan As-Suddiy adalah perawi yang tertuduh berdusta (muttaham bil-kidzb) sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafidh dalam At-Taqrib. Selain itu, ’Athiyyah Al-’Aufiy juga seorang perawi dla’if. Dikatakan : ”Jujur, namun banyak salah” (shaduuq, yukhthi’ katsiran).

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh ’Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ’Abdil-Wahhab dalam Fathul-Majid (hal. 346-347). Isyarat pen-dla’if-an juga dikatakan oleh Dr. ’Abdul-’Aliy bin ’Abdil-Hamid Al-Haamid dalam Tahqiq wa Takhrij ’alaa Kitaab Al-Jaami’ li-Syu’abil-Iman lil-Baihaqiy (1/382-383).

BAB 38 : BARANGSIAPA YANG MENTAATI ’ULAMA DAN UMARAA’ DALAM MENGHARAMKAN APA YANG DIHALALKAN ALLAH, ATAU MENGHALALKAN APA YANG DIHARAMKAN ALLAH, BERARTI IA TELAH MEMPERTUHANKAN MEREKA – من أطاع العلماء والأمراء في تحريم ما أحل الله أو تحليل ما حرم الله فقد اتخذهم أربابا من دون الله

Muallif berkata :

وقال ابن عباس: “يوشك أن تنْزل عليكم حجارة من السماء أقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، وتقولون قال أبو بكر وعمر؟”.

Ibnu ’Abbas berkata : ”Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku mengatakan : ’telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, sedangkan engkau (membantahnya) dengan mengatakan : ’telah berkata Abu Bakr dan ’Umar”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (1/337) dan Ibnu ’Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-’Ilmi wa Fadhlihi (no. 2378 dan 2381).

Sanad atsar ini adalah dla’if karena Syuraik Al-Qaadliy adalah orang yang jelek hafalannya (suu’ul-hifdhy).

Atsar ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (5/228 no. 3121) dan Asy-Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman dalam Tahqiq ’alaa Kitaab I’laamil-Muwaqqi’iin li-Ibnil-Qayyim (3/539).

BAB 39 : FIRMAN ALLAH TA’ALA QS. AN-NISAA’ : 60-62 – أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُوداً فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ إِحْسَاناً وَتَوْفِيقاً

1. Hadits ’Abdullah bin ’Amr radliyallaahu ’anhuma :

Muallif berkata :

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به”

Dari ’Abdullah bin ’Amr radliyallaahu ’anhuma : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian hingga hawa nafsunya tunduk/mengikuti pada apa yang aku bawa (dari Allah)”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (no. 15), Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (no. 279), Al-Khathiib dalam At-Taariikh (4/369), dan Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (1/213).

Sanad hadits ini dla’if karena Nu’aim bin Hammaad. Al-Haafidh dalam At-Taqrib berkata : ”Jujur, namun banyak salah (shaduuq, yukhthi’ katsiiran)”.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Al-Haafidh Ibnu Rajab dalam Jaami’ul-Uluum wal-Hikaam (hal. 495-496 no. 41), Asy-Syaikh Al-Albani dalam Misykaatul-Mashaabih (1/59-60 no. 167), Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawabirah dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabis-Sunnah li-Ibni Abi ’Aashim (hal. 1/46 no. 15).

2. Hadits dari Asy-Sya’biy rahimahullah :

Muallif berkata :

وقال الشعبي: “كان بين رجل من المنافقين ورجل من اليهود خصومة فقال اليهودي: نتحاكم إلى محمد – لأنه عرف أنه لا يأخذ الرشوة. وقال المنافق: نتحاكم إلى اليهود لعلمه أنهم يأخذون الرشوة. فاتفقا أن يأتيا كاهنا في جهينة فيتحاكما إليه، فنَزلت: {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ}” الآية.

Telah berkata Asy-Sya’biy : ”Pernah terjadi pertengkaran antara seorang munafiq dan seorang Yahudi. Berkatalah orang Yahudi itu : ’Mari kita beritahukan kepada Muhammad’ ; karena ia mengerti bahwa beliau shallallaahu ’alaihi wasallam tidak mengambil risywah (uang sogok). Sedangkan orang munafiq itu berkata : ’Mari kita berhakim kepada orang-orang Yahudi’ ; karena ia tahu bahwa mereka mau menerima risywah. Maka bersepakatlah keduanya untuk datang berhakim dengan seorang dukun di Juhainah. Lalu turunlah ayat : ”Tidaklah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku…” (QS:4:60)”.

Keterangan :

Sanad hadits ini shahih sampai kepada Asy-Sya’biy. Namun sebagaimana yang tampak, bahwa hadits ini mursal.

Lihat Fathul-Baariy (5/37).

BAB 40 : BARANGSIAPA YANG MENGINGKARI SEBAGIAN DARI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH – من جحد شيئا من الأسماء والصفات

Muallif berkata :

ولما سمعت قريش رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكر ” الرحمن ” أنكروا ذلك، فأنزل الله فيهم: {وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَن}

Ketika orang-orang Quraisy mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menyebut ‘Ar-Rahmaan’, mereka mengingkarinya. Maka terhadap mereka itu, Allah menurunkan firman-Nya : “Dan mereka kafir kepada Ar-Rahmaan” (QS. Ar-Ra’d : 30).

Keterangan :

Riwayat tentang sababun-nuzul QS. Ar-Ra’d : 30 tersebut dibawakan oleh Ath-Thabari dalam Tafsir-nya (13/101).

Sanad hadits tersebut adalah dla’if karena status ke-mursal¬-annya. Asal riwayat ini ada dalam Shahih Al-Bukhari (no. 2731-2732), Musnad Ahmad (4/323,328), Sunan Abi Dawud (no. 2765,4655), dan Sunan An-Nasa’i (5/169-170) tanpa menyebutkan sababun-nuzul ayat.

BAB 50 : FIRMAN ALLAH TA’ALA QS. AL-A’RAAF : 190 – قول الله تعالى: فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحاً جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Atsar Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma :

Muallif berkata :

وعن ابن عباس في الآية: “قال لما تغشاها آدم حملت فأتاهما إبليس فقال: إني صاحبكما الذي أخرجتكما من الجنة لتطيعاني أو لأجعلن له قرني أيل، فيخرج من بطنك فيشقه، ولأفعلن ولأفعلن يخوفهما، سمياه عبد الحارث. فأبيا أن يطيعاه فخرج ميتا، ثم حملت فأتاهما فقال مثل قوله، فأبيا أن يطيعاه، فخرج ميتا. ثم حملت فأتاهما فذكر لهما فأدركهما حب الولد فسمياه عبد الحارث، فذلك قوله {جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا}” رواه ابن أبي حاتم.

Dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut (QS. Al-A’raaf : 190) ia berkata : ”Setelah Adam menggauli istrinya Hawaa’, maka ia pun hamil. Lalu Iblis datang kepada mereka berdua dan berkata : ”Sunguh, aku adalah kawanmu berdua yang telah mengeluarkanmu dari surga. Demi Allah, hendaknya kamu mentaatiku. Kalau tidak, niscaya akan kujadikan anakmu itu bertanduk dua seperti rusa, sehingga akan keluar dari perut istrimu dengan merobeknya. Demi Allah, pasti akan aku lakukan”. Demikianlah Iblis menakut-nakuti mereka berdua. Iblis melanjutkan : ”Namailah anakmu itu ’Abdul-Haarits”. Tetapi keduanya menolak untuk mematuhinya. Ketika bayi mereka lahir, lahirlah ia dalam keadaan mati. Kemudian Hawwa’ hamil lagi. Maka datanglah Iblis kepada mereka berdua dengan mengatakan seperti yang pernah ia katakan sebelumnya. Tetapi mereka berdua tetap menolak untuk mematuhinya, dan bayi mereka pun lahir lagi dalam keadaan mati. Selanjutnya, Hawwa’ hamil lagi. Maka datanglah Iblis kepada mereka berdua dan mengingatkan mereka apa yang pernah ia katakan. Karena Adam dan Hawwa’ lebih menginginkan keselamatan anaknya, akhirnya mereka mematuhi Iblis dengan memberi kepada anak mereka nama ’Abdul-Haarits. Itulah tafsiran firman Allah : ’Mereka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal (anak) yang Dia karuniakan kepada mereka”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya (5/1634 no. 8654). Dibawakan pula oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (6/483),

Sanad hadits ini adalah dla’if karena perawi yang bernama Syuraik dan Khashiif.

Hadits ini dilemahkan oleh para muhaqqiqiin Tafsir Ibni Katsir (6/483). Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dan Asy-Syaikh Mahmud Syaakir juga mengingkari riwayat-riwayat yang mempunyai matan sebagaimana di atas dalam Tahqiq wa Takhrij ’alaa Tafsir Ath-Thabariy (13/309-310). Beliau mengatakan bahwa tidaklah mungkin bagi Nabi Adam ’alaihis-salaam berbuat kesyirikan menuruti perintah Iblis hanya demi seorang anak. Asy-Syaikh Al-Albani juga men-dla’if-kan hadits serupa dari jalur yang lain sebagaimana terdapat dalam Silsilah Adl-Dla’ifah (1/516-517 no. 342).

Catatan : Tidak dipungkiri bahwa riwayat sebagaimana di atas telah ternukil dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma dari para shahabatnya, diantaranya Mujaahid, Sa’id bin Jubair, dan ’Ikrimah. Juga dari ulama pada thabaqah kedua seperti Qataadah, As-Suddiy, dan banyak yang lainnya dari ulama salaf. Begitu juga jama’ah dari ulama khalaf. Ibnu Katsir (6/484) memberi penjelasan tentang ini bahwa sepertinya riwayat tersebut berasal dari ahli kitab, yaitu dimana Ibnu ’Abbas mengambilnya dari Ubay bin Ka’b radliyallaahu ’anhum sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya (5/1633 no. 8653).

BAB 55 : TIDAK BOLEH DIMOHON DENGAN MENYEBUT WAJAH ALLAH, KECUALI SURGA – لا يُسأل بوجه الله إلا الجنة

Muallif berkata :

عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :”لا يُسأل بوجه الله إلا الجنة” رواه أبو داود.

Dari Jaabir ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Tidak boleh dimohon dengan menyebut Wajah Allah, kecuali surga”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1671), Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa (4/199) dan Al-Asmaa’ wash-Shifaat (2/93-94 no. 661), serta Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil (3/1107).

Sanad hadits tersebut adalah dla’if, karena perawi yang bernama Sulaiman bin Qarm bin Mu’aadz. Ia seorang perawi yang dla’if dari segi hafalannya yang buruk (suu’ul-hifdhi). Dalam hal ini, ia menyendiri dalam periwayatan sebagaimana dikatakan Ibnu ’Adiy.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Misykaatul-Mashaabih (1/605 no. 1944) dan ’Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidi dalam Tahqiq wa Takhrih ’alaa Kitaab Al-Asmaa’ wash-Shifaat lil-Baihaqi (2/93-94).

BAB 65 : TIDAK DIBENARKAN MEMINTA ALLAH SEBAGAI PERANTARA KEPADA MAKHLUKNYA – لا يستشفع بالله على خلقه

Muallif berkata :

عن جبير بن مطعم رضي الله عنه قال: “جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، نهكت الأنفس وجاع العيال وهلكت الأموال، فاستسق لنا ربك، فإنا نستشفع بالله عليك، وبك على الله. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: سبحان الله ! سبحان الله ! فما زال يسبح حتى عرف ذلك في وجوه أصحابه. ثم قال: ويحك أتدري ما الله؟ إن شأن الله أعظم من ذلك، إنه لا يستشفع بالله على أحد” . وذكر الحديث، رواه أبو داود.

Dari Jubair bin Muth’im radliyallaahu ’anhu ia berkata : Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang kemudian berkata : ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kehabisan tenaga, anak-anak kelaparan, dan harta benda musnah. Maka mintalah siraman hujan untuk kami kepada Tuhanmu. Sungguh, kami meminta Allah sebagai perantara kepadamu dan kami memintamu sebagai perantara kepada Allah”. Ketika itu bersabdalah Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Subhaanallaah, subhaanallaah”. Beliau pun tetap bertasbih sampai tampak pada raut muka para shahabat (perasaan takut karena kemarahan beliau). Kemudian beliau bersabda : ”Kasihanilah dirimu. Tahukah kamu siapakah Allah itu ? Sungguh, kedudukan Allah jauh lebih agung daripada yang demikian itu. Sesungguhnya, tidak dibenarkan Allah diminta sebagai perantara kepada siapapun dari makhluk-Nya”. Dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4726), Ibnu Abi ’Aashim dalam As-Sunnah (no. 575,576), Ath-Thabaraniy dalam Al-Kubraa (no. 1547), Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (no. 147), Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah (1/175 no. 92), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini dla’if karena perawi yang bernama Muhammad bin Ishaq (Ibnu Ishaq). Ia seorang mudallis dimana membawakan riwayat dengan ’an’anah. Juga, Jubair bin Muhamad bin Jubair, ia seorang perawi majhul.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dhilaalul-Jannah (1/252-253), Asy-Syaikh Hamdiy bin ’Abdil-Majid As-Salafiy dalam Takhrij ’alal-Mu’jamil-Kabiir lith-Thabarani (2/128), Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawaabirah dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabis-Sunnah li-Ibni Abi ’Aashim (hal. 393), dan Dr. ’Abdul-’Aziz bin Ibrahim Asy-Syahwan dalam Tahqiq wa Takhrij Kitaabit-Tauhid li-Ibni Khuzaimah (1/240).

BAB 67 : FIRMAN ALLAH TA’ALA QS. AZ-ZUMAR : 67 – ما جاء في قول الله تعالى : وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Muallif berkata :

1. Hadits Zaid bin Aslam radliyallaahu ’anhu :

وقال ابن جرير: حدثني يونس أخبرنا ابن وهب قال: قال ابن زيد: حدثني أبي قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “ما السماوات السبع في الكرسي إلا كدراهم سبعة ألقيت في ترس”.

وقال: قال أبو ذر رضي الله عنه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “ما الكرسي في العرش إلا كحلقة من حديد ألقيت بين ظهري فلاة من الأرض”.

Telah berkata Ibnu Jarir : Telah menceritakan kepadaku Yunus : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb ia berkata : Telah berkata Ibnu Zaid : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Ketujuh langit itu berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai”.

Zaid berkata : Telah berkata Abu Dzarr radliyallaahu ’anhu : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Kursi itu berada di ‘Arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (5/8).

Sanad bagian pertama hadits adalah mursal, karena Zaid (bin Aslam) seorang tabi’iy yang langsung meriwayatkan langsung pada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tanpa melalui perantaraan shahabat.

Sanad di bagian kedua adalah munqathi’, namun ada sanad maushul yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Shifatul-’Arsy (no. 58) secara marfu’ dari Abu Dzarr radliyallaahu ’anhu dengan sanad shahih (lihat Ash-Shahihah no. 109).

Ke-mursal-an hadits di atas ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah (1/24) yang kemudian disepakati oleh Dr. ’Abdullah bin ’Abdil-Muhsin At-Turkiy dalam Tahqiq ’alaa Tafsir Ath-Thabari (5/539).

2. Hadits Al-’Abbas radliyallaahu ’anhu :

وعن العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هل تدرون كم بين السماء والأرض؟) قلنا: الله ورسوله أعلم قال: (بينهما مسيرة خمسمائة سنة، ومن كل سماء إلى سماء مسيرة خمسمائة سنة وكثف كل سماء خمسمائة سنة، وبين السماء السابعة والعرش بحر بين أسفله وأعلاه كما بين السماء والأرض، والله سبحانه وتعالى فوق ذلك، وليس يخفى عليه شيء من أعمال بني آدم). أخرجه أبو داود وغيره.

Dari Al-’Abbas bin ’Abdil-Muthallib radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dan bumi ?”. Kami menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : ”Antara langit dan bumi jaraknya 500 tahun perjalanan, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya 500 tahun perjalanan, sedangkan ketebalan masing-masing langit adalah 500 tahun perjalanan. Antara langit yang ketujuh dengan ’Arsy ada samudera, dan antara dasar samudera itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dan bumi. Allah ta’ala di atas semua itu dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4723), At-Tirmidzi (no. 3320), Ibnu Maajah (no. 193), Ahmad (1/206-207), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini dla’if, karena perawi yang bernama ’Abdullah bin ’Amiirah. Adz-Dzahabi berkata : ”Padanya terdapat jahalah”. Al-Bukhari berkata : ”Tidak diketahui penyimakannya dari Al-Ahnaf bin Qais”. Al-Haafidh berkata : ”Maqbul”.

Selain itu, terdapat perselisihan dalam sanad dan matannya pada beberapa jalannya.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dhilaalul-Jannah (1/254) dan Silsilah Adl-Dla’iifah (3/398-402 no. 1247); Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawaabirah dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabis-Sunnah li-Ibni Abi ’Aashim (hal. 395-396); serta Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (3/292-293 no. 1770).

***

[Alhamdulillah, telah selesai penulisan risalah ini semenjak tiga hari yang lalu. Diselesaikan pada hari Kamis, 1-1-2009, pukul 03.21 WIB oleh Abu Al-Jauzaa’.

Dan kemudian direvisi pada hari Sabtu, 2 Mei 2009, ba’da ’Ashar atas masukan al-akh al-fadlil Ibn ’Aabid – jazaahullaahu khairan katsiiran].

Maraaji’ :

1. Al-Asmaa’ wash-Shifaat, karya Al-Haafidh Al-Baihaqi (tahqiq, takhrij, & ta’liq : Asy-Syaikh ’Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidiy, taqdim : Asy-Syaikh Muqbil Al-Wad’iy); Penerbit : Maktabah As-Suwadiy, Cet. Thn. 1412.

2. Al-Jawaabul-Kaafiy liman Sa-ala Dawaa-siy-Syaafiy, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim (Takhrij & tahqiq : Asy-Syaikh ’Amr bin ’Abdil-Mun’im Saliim); Penerbit : Maktabah Ibni Taimiyyah, Cet. 1/1417, Cairo.

3. Al-Jaami’ li-Syu’abil-Iimaan, karya Al-Haafidh Al-Baihaqiy (tahqiq & takrij : Dr. ’Abdul-’Aliy bin ’Abdil-Hamid Al-Haamid); Penerbit : Maktabah Ar-Rusyd, Cet. 1/1423, Riyadl.

4. Al-Mu’jamul-Kabiir, karya Al-Imam Ath-Thabarniy (tahqiq & takhrij : Asy-Syaikh Hamdiy bin ’Abdil-Majid As-Salafiy); Penerbit : Maktabah Ibni Taimiyyah, Cet. 2/1404, Cairo.

5. Al-Musnad, karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal (tahqiq, takhrij, & ta’liq : Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dan ’Aadil-Mursyid); Penerbit : Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1416, Beirut.

6. Al-Musnad, karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal (syarh : Asy-Syaikh Ahmad Syaakir); Penerbit : Daarul-Hadiits, Cet. 1/1416, Cairo.

7. Al-Mustadrak ’alash-Shahihain, karya Al-Imam Al-Hakim An-Naisaburiy (tahqiq : Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Wadi’iy – Tatabbu’u Auhaamil-Haakim Allatii Sakata ’Alaihadz-Dzahabi); Penerbit : Daarul-Haramain, Cet. 1/1418, Cairo.

8. ’Amalul-Yaum wal-Lailah, karya Al-Haafidh Abu Bakr Muhammad Ad-Dinauriy, Ibnus-Sunniy (tahqiq : Basyiir Muhammad ’Uyuun); Penerbit : Maktabah Daaril-Bayaan, Cet. 1/1407.

9. As-Sunan Al-Kubraa, karya Al-Haafidh Al-Baihaqiy (tahqiq : Muhammad bin ‘Abdil-Qadir Athaa); Penerbit : Daarul-Kutub Al-’Ilmiyyah, Cet. 4/1424, Beirut.

10. As-Sunnah, karya Al-Haafidh Ibnu Abi ’Aashim (takhrij : Asy-Syaikh Al-Albani – Dhilaalul-Jannah fii Takhriij As-Sunnah); Penerbit : Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1400, Beirut.

11. As-Sunnah, karya Al-Haafidh Ibnu Abi ’Aashim (tahqiq & takhrij : Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawabirah); Penerbit : Daarush-Shumai’iy, Cet. 1/1419, Riyadl.

12. At-Ta’liqaatul-Hisaan ’alaa Shahih Ibni Hibban, karya Asy-Syaikh Al-Albani; Penerbit : Daarul-Baawaziir, Cet. 1/1424, Jeddah.

13. Fathul-Baariy, karya Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-’Asqalaniy (tahqiq : Asy-Syaikh Ibnu Baaz); Penerbit : Daarul-Ma’rifah, Beirut.

14. Fathul-Majiid fii Syarhi Kitaabit-Tauhiid, karya Asy-Syaikh ’Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ’Abdil-Wahhab (ta’liq : Asy-Syaikh Ibnu Baaz); Penerbit : Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Cairo.

15. Ghayaatul-Maraam fii Takhriiji Ahaadiitsi Al-Halaal wal-Haraam, karya Asy-Syaikh Al-Albani; Penerbit : Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1400, Beirut.

16. Hilyatul-Auliyaa’, karya Al-Haafidh Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy; Penerbit : Daarul-Kutub Al-’Ilmiyyah, Cet. 1/1409, Beirut.

17. I’laamul-Muwaqqi’iin ’an Rabbil-’Aalamiin, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim (tahqiq : Asy-Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman); Penerbit : Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1423, Riyadl.

18. Jaami’ Bayaanil-’Ilmi wa Fadhlihi, karya Al-Haafidh Ibnu ’Abdil-Barr (tahqiq : Abu Asybal Az-Zuhairiy); Penerbit : Daar Ibni Jauziy, Cet. 1/1414, Riyadl.

19. Jaami’ul-Bayaan ’an Ta’wiili Ayil-Qur’an, karya Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabariy (tahqiq : Asy-Syaikh Mahmud Syaakir, takhrij : Asy-Syaikh Ahmad Syaakir); Penerbit : Maktabah Ibni Taimiyyah, Cairo.

20. Jaami’ul-Bayaan ’an Ta’wiili Ayil-Qur’an, karya Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabariy (tahqiq : Dr. ’Abdullah bin ’Abdil-Muhsin At-Turkiy); Penerbit : Markaz li-Buhuuts wad-Diraasaat Al-’Arabiyyah wal-Islamiyyah, Cet. 1/1422.

21. Jaami’ul-’Uluum wal-Hikam fii Syarhi Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il-Kalim, karya Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy (takhrij & ta’liq : ’Ishaamuddin Ash-Shabaabithiy); Penerbit : Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1424, Cairo.

22. Kitaabul-’Adhamah, karya Al-Imam Abusy-Syaikh Al-Ashbahaniy (tahqiq & takhrij : Ridlaaullah bin Muhammad Al-Kafuriy); Penerbit : Daarul-’Aashimah, Riyadl.

23. Kitab Tauhid (terjemahan), karya Syaikh Muhammad At-Tamimi; Penerbit : Yayasan Al-Sofwa, Cet. 3/1420, Jakarta.

24. Kitaabut-Tauhiid Alladzii Huwa Haqqullaahi ‘alal-‘Abiid, karya Syaikhul-Islam Muhammad bin ’Abdil-Wahhab (tahqiq : ’Abdul-’Aziz bin ’Abdirrahman As-Sa’iid); Penerbit : Univ. Al-Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadl – melalui perantara Maktabah Asy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab, Free Program from : http://www.islamspirit.com/.

25. Kitaabut-Tauhiid, karya Al-Imam Ibnu Khuzaimah (tahqiq : Dr. ’Abdul-’Aziz bin Ibrahim Asy-Syahwan); Penerbit : Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408, Riyadl.

26. Majma’uz-Zawaaid wa Manba’ul-Fawaaid, karya Al-Haafidh Nuuruddin Al-Haitsami (tahqiq : ’Abdullah Muhammad Darwiisy – Bughyatur-Raaid); Penerbit : Daarul-Fikr, Cet. Thn. 1414, Beirut.

27. Mawaaridudh-Dham’aan ilaa Zawaaidi Ibni Hibban, karya Al-Haafidh Nuuruddin Al-Haitsami (tahqiq & takhrij : Husain Saliim Asad Ad-Daaraniy); Penerbit : Daarust-Tsaqafah Al-’Arabiyyah, Cet. 1/1411, Beirut.

28. Miizaanul-I’tidaal fii Naqdir-Rijaal, karya Al-Haafidh Adz-Dzahabiy (tahqiq : ’Ali Muhammad Al-Baajawiy), Daarul-Ma’rifah, Beirut.

29. Misykatul-Mashaabih, karya : Al-Imam Muhammad bin ’Abdillah Ath-Thibriziy (tahqiq : Asy-Syaikh Al-Albani); Penerbit : Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 2/1399, Beirut.

30. Mukhtashar Silsilah Al-Ahaadiits Adl-Dla’iifah, karya Asy-Syaikh Al-Albani – Free Program from http://www.alalbany.net/.

31. Mukhtashar Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah, karya Asy-Syaikh Al-Albani – Free Program from http://www.alalbany.net/.

32. Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisiy, karya Al-Imam Sulaiman bin Dawud bin Al-Jaaruud (tahqiq : Dr. Muhammad bin ’Abdil-Muhsin At-Turkiy); Penerbit : Markaz li-Buhuuts wad-Diraasaat Al-’Arabiyyah wal-Islamiyyah – Daarul-Hajar, Cet. 1/1419.

33. Shahih Al-Bukhari (tahqiq : Asy-Syaikh Muhibbudiin Al-Khathib, tarqim : Asy-Syaikh Muhammad Fuad ’Abdul-Baqi); Penerbit : Al-Mathba’ah As-Salafiyyah, Cet. 1/1400, Cairo.

34. Shahih Ibni Hibban (takhrij, tahqiq, & ta’liq : Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth); Penerbit : Muassasah Ar-Risalah, Cet. 2/1414, Beirut.

35. Silsilah Al-Ahaadiits Adl-Dla’iifah, karya Asy-Syaikh Al-Albani; Penerbit : Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1412, Riyadl.

36. Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah, karya Asy-Syaikh Al-Albani; Penerbit : Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. Thn. 1415, Riyadl.

37. Sunan Abi Dawud bi-ahkaamil-Albaniy – Free Program from http://www.alalbany.net/.

38. Sunan An-Nasa’i bi-ahkaamil-Albaniy – Free Program from http://www.alalbany.net/.

39. Sunan At-Tirmidzi bi-ahkaamil-Albani – Free Program from http://www.alalbany.net/.

40. Sunan Ibni Majah bi –ahkaamil-Albani – Free Program from http://www.alalbany.net/.

41. Tafsir Al-Qur’anil-’Adhiim, karya Al-Haafidh Ibnu Katsiir (tahqiq : Mushthafaa As-Sayyid Muhammad, dkk); Penerbit : Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421.

42. Tafsir Al-Qur’anil-’Adhiim Musnadan ’an Rasuulillah shallallaahu ’alaihi wasallam wash-Shahaabati wat-Taabi’iin, karya Al-Imam Ibnu Abi Haatim Ar-Raaziy (tahqiq : As’ad Muhammad Ath-Thayib); Penerbit : Maktabah Nizaar Mushthafaa Al-Baaz, Cet. 1/1417, Riyadl.

43. Takhriij Ahaadiits Muntaqadah fii Kitaabit-Tauhidlisy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab, karya : Fariih bin Shaalih Al-Bahilaal (taqdim : Asy-Syaikh Ibnu Baaz); Penerbit : Daarul-Atsar, Cet. 1/1415, Riyadl.

44. Taqriibut-Tahdziib, karya Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-’Asqalaniy (tahqiq & ta’liq : Abu Asybal Shaghiir Ahmad Al-Baakistaaniy, taqdim : Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid); Penerbit : Daarul-’Aashimah, Riyadl.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s